Sasmita Nugraha L2H607069
Perkembangan jaman terlihat pada perkembangan teknologi yang sedang terjadi sebagai parameter. Hal ini tidak bisa dipungkiri, jaman penuh dengan batu menjadi jaman besi, tembaga, bahkan mungkin emas. Berlebihan? Memang. Karena hal itu yang memang terjadi. Jaman memasak dengan kayu, sekarang tersedia kompor. Teknologi banyak sekali memberikan kontribusinya dalam kehidupan masyarakat sekarang. Bahkan masyarakat sekarang tidak dapat lagi dipisahkan dengan teknologi. Contohnya saja handphone, barang yang dulu terkenal kemewahan serta tingkat sosial yang dimiliki empunya, tetapi sekarang hal itu telah terhapuskan, barang itu bisa dimiliki semua orang baik dari tingkat sosial menengah bahkan ke bawah, seakan itu adalah kebutuhan mereka sehari-hari. Fenomena itu tentu saja menyingkirkan beberapa teknologi yang dulunya semarak seperti warung telekomunikasi (wartel) menjadi tersisihkan. Inilah perkembangan jaman dengan teknologi mutakhir yang selalu saja tercipta dari tangan manusia untuk memenuhi kebutuhan bahkan hanya sekedar memenuhi kepuasan pemiliknya.
Perkembangan teknologi ke depan akan selalu ada, di samping kebutuhan manusia akan efisiensi waktu serta dana. Seperti persawahan yang dulunya saja digarap dengan tangan manusia yang rajin dan terampil, tetapi sekarang sudah banyak mesin yang bekerja, membuat efisiensi waktu bagi sang pemilik sawah untuk memanen hasil panenannya juga efisiensi dana karena pemilik tidak membutuhkan lagi banyak buruh untuk dipekerjakan pada sawahnya. Bisa saja fakta ini memunculkan pemikirian baru bagi manusia yang berpikirian ke depan untuk merubah mesin-mesin tersebut menjadi robot. Ya, robot yang lebih dapat kita kendalikan dan pastinya tidak memiliki rasa capek, penat, bahkan mungkin bosan. Lebih memilih robot karena mereka tidak memiliki emosi seperti halnya mausia. Terlihat pemikiran tersebut akan memenuhi dunia ini dengan berbagai alat yang serba praktis dan otomatis.
Fenomena di atas pasti sangatlah miris, karena kemajuan teknologi harus mampu menyeimbangkan diri dengan daya beli bagi manusia yang akan memilikinya. Yach.. teknologi mutakhir pastinya memiliki harga yang sangat mahal. Tetapi memang, harga tersebut akan turun jika teknologi baru yang lebih mutakhir launching. Sangat lucu, karena akhirnya teknologi yang dimiliki itu memang mutakhir tapi kalah mutakhir lagi dengan yang baru. Kemampuan masyarakat dalam memiliki barang mutakhir juga berpikiran apakah kebutuhan itu sangatlah penting. Mungkin, bagi perorangan belum dibutuhkan. Tetapi jika kita lihat perusahaan sekarang. Terutama perusahaan besar yang sangat tergantung dengan teknologi. Walaupun memang masih perlu pengawasan dari para karyawannya. Karena pastilah efisiensi dana serta waktu yang sangat dijunjung tinggi oleh sebuah perusahaan untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa mengurangi kelebihan produk yang akan ditawarkannya.
Kemajuan teknologi ke depan akankah merubah kehidupan yang asri sekarang? Hal itu masih kita pertanyakan. Apakah kemajuan teknologi akan dibarengi dengan keramahan kita sebagai penghuni bumi? Yah.. lagi-lagi hal ini masih harus kita pertimbangkan. Fenomena Global warming saja sudah menggemparkan seluruh isi penduduk di bumi ini. Akankah bumi lebih marah lagi? Hm, kira-kira apakah kemajuan teknologi masih membutuhkan keuntungan yang kita ambil dari bumi. Contohnya saja bahan bakar yang diperlukan sekarang untuk menggerakkan mobil. Tapi, bukannya bahan bakar tersebut akan semakin menipis keberadaannya di bumi ini. Apa yang akan kita lakukan? Para pemikir serta para ahli sedang bergelut dengan permasalahan itu untuk mencari pengganti bahan bakar. Karena banyak fakta yang mengatakan bahwa bumi sedang marah dengan kita. He…he…he…bumi juga punya perasaan, bung!
Mungkinkah kemajuan teknologi semua akan serba otomatis serta lebih efisien? Sehingga membuat kita para manusia menjadi lebih dapat bermalas-malasan karena memang kenyataannya manusia tidak mengerjakan apapun. Hanya duduk-duduk saja memperhatikan robot yang membersihkan rumah, pekarangan, bahkan mungkin mengurus anak. Ha…ha…ha… lucu sekali, anak kita yang kecil dan imut-imut yang masih bayi itu bukan melihat wajah orang tuanya tetapi malah ngeliat wajah robot yang terbuat dari besi merawatnya. Seperti anak ayam yang baru menetas, siapapun yang dilihatnya pertama kali ia muncul dari persembunyiannya dalam telur akan dianggapnya sebagai orang tuanya. Untung saja manusia memiliki kecerdasan yang tak dimiliki oleh makhluk ciptaan Allah SWT lainnya. Ufh..manusia menjadi lebih malas mengerjakan segala sesuatunya. Kaya’ di pilem-pilem ajach…manusia yang hidup berdampingan dengan robot-robot. Apakah mungkin dengan kemajuan teknologi, tak akan ada lagi yang namanya sayuran hijau melainkan sebuah pil hijau yang akan kita makan nanti… Membayangkan setiap kita di sekolah, tak ada lagi yang namanya guru pengajar biasa tetapi robot. Robot yang terprogram sesuai dengan kurikulum yang akan diajarkan. Unik juga. Tapi enggak ada yang tau apakah itu akan benar-benar ada di masa yang akan datang atau tidak. Apa mungkin dengan itu, malah tidak perlu lagi adanya sekolah melainkan home schooling dengan pengajar robot. (hm,, atau itu hanyalah pemikiranku ajach….tapi tidak menutup kemungkinan kan?)
Tapi enak juga kan..di saat kita lelah serta penat seharian melakukan aktivitas…masuk rumah tinggal pencet-pencet ini-itu di satu remot, udah pada nyala aja ntuch, kaya’ lampu, TV, AC, VCD/DVD, bahkan mungkin robot setia akan datang menghidangkan makanan yang kita sukai, membersihkan perabotan yang kotor, menyiapkan keperluan keseharian kita. Serasa hidup bagaikan sang penguasa. Semua tersedia dengan sendirinya.
Bayangkan saja, semakin majunya teknologi. Jarak tak lagi bermasalah untuk berkomunikasi dengan orang-orang tercinta. Memang sih sekarang udah ada ntuch yang namanya e-mail, chatting, or handphone. Tapi dirasa masih kurang nyata. Tapi dengan adanya webcam sekarang saja sudah serasa lebih dekat. Apakah mungkin dengan kemajuan teknologi bisa ada komunikasi yang tidak terbatas dengan adanya jarak, waktu, dan ruang? Ha…ha...ha… tingkat tinggi memang, tapi dengan pemikiran seperti itu mungkin muncul keberadaan teknologi mutakhir sekarang. Yach, dari imajinasi yang sedikit gila tapi membuahkan pemikiran yang sangat memuaskan.
Eitz…tapi jangan salah.. keberadaan teknologi jadi menuntut manusia untuk mengikutinya, karena kalo’ enggak bisa dibilang gaptek alias gagap teknologi, hii…sapa yang mau gaptek, hari gini gitu loch?! Ha…ha…ha…itulah bahasa umum anak-anak muda jaman sekarang. Dengan adanya kemajuan teknologi jadi banyak manusia yang lebih ingin maju dan ingin memeberikan kontribusinya dalam setiap perkembangan teknologi. Pendidikanlah yang sangat mendasar sehingga lebih dibutuhkan. Indonesia aja udah berani menaikkan tingkat pendidikan wajib bagi warganya, yang semula hanya 6 tahun menjadi 9 tahun. Sekarang tinggal manusianya aja lagi, yang masih butuh atau enggak dengan pendidikannya sendiri. Otomatis banget, dengan semakin banyaknya masyarakat cendikia akan meningkatkan jumlah para ahli dan ilmuwan. Pendidikan juga memang membutuhkan keberadaan dana untuk mengejar ilmu ampe’ ke negri Cina. Hiperbola cie tapi kenyataan.
Perdebatan akan terus berlanjut apakah kemajuan teknologi membawa banyak keuntungan dibandingkan kerugian yang akan ditimbulkannya, atau sebaliknya? Tapi seiring perdebatan itu muncul justru sudah semakin banyak teknolgi mutakhir yang bermunculan. Lucu sekaligus menggelikan. Kehadirannya semakin menguatkan para pecinta bumi untuk menggalakkan kelestarian terhadap lingkungan. Manusialah yang memilih dan memiliki kebijakannya. Akankah kita ingin jahat terhadap bumi tempat kita berpijak? Ce’ile…bahasanya roman picisan banget.
Banyak sekali yang harus kita pertimbangkan seiring dengan kemajuan teknologi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar